Sensasi Memberi Makan Lumba-Lumba di Pantai Tangalooma

PADA suatu malam di bulan Juni, angin berhembus pelan, namun udara dingin seakan mengigit kulit. Di pinggir Pantai Tangalooma, Moreton Island, Queensland, Australia, tampak segerombolan lumba-lumba sedang asyik bermain dengan kawanan mereka. Tak jauh dari sebuah anjungan tua, beberapa turis asing terlihat antusias memberi makan lumba-lumba liar. Sekitar 60 tahun lalu, anjungan bertiang tinggi ini adalah tempat pembantaian paus. Di sini, mamalia air ini digantung, kemudian dikuliti satu-persatu bagian kulitnya. Semua habis menjadi barang-barang komoditas bernilai tinggi.Namun itu dulu. Sekarang, memberi makan lumba-lumba di pinggir pantai adalah salah satu andalan atraksi wisata di Tangalooma Island Resort. Atas undangan Tourism Australia dan Tourism and Events Queensland, Media Indonesia berkesempatan menyapa hewan jinak ini di pulau nan eksotis. Keunikannya, lumba-lumba tersebut bukan hewan yang dipelihara, namun liar. Meski liar, kawanan mamalia ini memiliki kebiasaan sejak 30 tahun silam mendatangi pinggi pantai Tangalooma setelah matahari tenggelam. Mamalia ini seakan tahu lokasi makanan tanpa harus bersusah payah mendapatkannya. Perlu ditekankan sekali lagi di sini, mereka itu bukan lumba-lumba peliharaan, melainkan hewan bebas yang datang karena terbiasa dan dibiasakan. Sejarah memberi makan lumba-lumba ini sudah berjalan sekitar 30 tahun dengan individu lumba-lumba yang terus berganti sejalan dengan waktu. Beberapa lumba-lumba tercatat dengan baik, baik tanggal pertama munculnya maupun nama dan segala ciri-cirinya."Ini benar-benar lumba-lumba liar, tak ada yang menyuruh mereka ke sini atau trik lainnya," ujar Emily Loo, sales coordinator Tangaloma Island Resort.Puluhan lumba-lumba yang datang teratur setiap senja itu bukanlah hal yang langsung datang begitu saja. Kata Emely, semuanya berawal pada tahun 1980-an, Brian dan Betty Osborne, suami-istri yang mengembangkan Tangalooma menjadi destinasi turisme, mendapati seekor lumba-lumba yang seakan mengajak berkomunikasi dengan mereka. Betty pun mulai memberi makan lumba-lumba langsung dari tangan mereka. "Sejak saat itu, secara bertahap, lumba-lumba ini mengajak teman dan keluarga mereka ke pulau ini," jelas Emely. Sejak saat itulah popularitas Tangalooma berkembang dengan sangat cepat karena menyuapi lumba-lumba liar adalah atraksi yang sangat langka.Emely, perempuan berkewarganegara Malaysia ini mengingatkan, untuk memberi makan lumba-lumba, pengunjung harus menanggalkan perhiasan di tangannya, seperti jam, cincin, ataupun gelang. "Agar tidak menyakiti lumba-lumba ketika diberi makan. Kulit lumba-lumba itu sensitif," katanya.Untuk memberi makan lumba-lumba, pengunjung harus berbaris di depan sebuah emberi berisi ikan-ikan segar. Sambil memegang ikan, pengunjung memasukkan tangannya ke dalam air laut. Tak lama berselang, seekor lumba-lumba pasti menghampiri dan segera melahap ikan dari tangan pengunjung. Echo, lumba-lumba berusia 20 tahun dengan lembut menyambar ikan dari tangan saya. Barisan gigi runcingnya terasa di tangan.Selain lumba-lumba, Tangalooma ada tempat pelbagai hewan liar lainnya, seperti, burung camar, pelikan, penyu, hingga ular. Semua berkeliaran dengan bebas. Di beberapa sudut pulau tertampang papan peringatan dilarang memberi makan hewan-hewan tersebut. "Nanti makanannya tidak cocok dengan hewan-hewan ini. Ada beberapa dari mereka yang sakit karena pengunjung yang bandel memberi makan hewan-hewan ini," kata Emely.Untuk mencapai Tangalooma, pengunjung bisa menumpang feri cepat, Dermaga Holt Street, Pinkenba, Brisbane dengan biaya 80 dollar Australia untuk tiap orang dewasa, 45 dollar Australia untuk tiap anak berusia 3-14 untuk pergi-pulang. Emely mengatakan, Tangalooma adalah salah satu magnet utama turis yang berlibur di Australia. Saban tahun, tak kurang dari 100 ribu turis mancanegara menikmati liburannya di pulau ini. Di sini, tersedia 320 unit kamar pelbagai tipe, mulai dari bintang tiga hingga 4,5. Yang menarik, salah satu trik marketing di Tangalooma adalah merekrut pekerja dari pelbagai belahan dunia, termasuk Emely dari Malaysia. Di sini, staf asing dari China, Filipina, India dan negara lainnya banyak mendominasi. "Ini salah satu trik kami agar staf-staf dari berbagai belahan dunia ini mampu menggaet turis dari negara mereka. Dan cara ini cukup efektif untuk mempromosikan Tangalooma," ujarnya. Emely menambahkan, turis asal China merupakan pengunjung yang paling banyak. "Ya karena ekonomi mereka saat ini sedang tumbuh bagus," jelasnya.Selain memberi makan ini, Tangalooma menyimpan pelbagai aktivitas menarik untuk membuat turis semakin betah di pulau ini. Mulai dari mengayuh kano dan kayak, memancing, mengendarai all-terrain-vehicle (ATV), hingga selancar pasir. Aktivitas yang terakhir ini sangat mengasyikkan. Untuk melakukan selancar pasir, pengunjung diangkut dengan bus, menuju kawasan tengah pulau dan melintasi hutan taman nasional. Setelah berkendara selama 15 menit, muncul pemandangan bukit-bukit pasar putih nan halus. Sebelum berselancar, pengunjung harus mendaki bukit pasir setinggi 90 meter dengan kemiringan sekitar 50 derajat. Melelahkan, itu pasti. Namun, semua itu pasti terbayarkan dengan sensasinya. Ketika hendak meluncur, turis tak diperkenankan mengenakan atau membawa barang apapun, bahkan alas kaki. Karena dikhawatirkan benda-benda tersebut akan terlempar jatuh kala meluncur dengan kecepatan 40 kilometer/jam.Bagaimana dengan papan seluncurnya? Tak perlu alat canggih, cukup dengan triplek tebal berukuran sekitar 20X60 sentimeter. Jangan lupa, angkat kaki anda, agar tidak menghambat kecepatan papan. "Kalau tidak harus memanjat setinggi ini, saya pasti akan mencobanya 10 kali," ujar Nathalie, turis asal Skotlandia. Jika tertarik mencoba, hati-hati dengan mulut anda. Karena, ketika meluncur dengan kecepatan tinggi, butiran pasir beterbangan hingga masuk ke telinga, mulut atau hidung anda.Sebetulnya, Pulau Moreton tempat Tangalooma berada adalah pulau yang gersang. Namun, sumber air tawar sangat banyak ditemukan di sana. Bahkan pulau ini diklaim sebagai sumber air tawar terbesar di Australia. Gundukan-gundukan pasir dan gurun-gurun kecil di dalam pulau itu juga sangat indah dan dimanfaatkan sebagai ajang rekreasi, seperti berseluncur pasir. Sementara alam gersang di sana dijadikan rute tracking yang menawan. Beberapa rute bahkan dijalani dengan memakai kendaraan ATV. Beberapa kapal tua, walau sudah berkarat, menjadi sebuah landmark indah, apalagi ketika bermandikan cahaya matahari. Kunci daya tarik Tangalooma sebagai tujuan wisata adalah pengelolaannya yang sangat baik dan rapi. Fakta bahwa Tangalooma telah menjadi tempat syuting Film Scooby Doo yang sangat terkenal itu pada 2002, adalah daya tarik kuat bagi anak-anak. Diakui Emely, banyak keluarga yang berkunjung ke Tangalooma hanya karena anak-anak mereka ingin bertemu Scooby Doo. Ya, ratusan burung laut yang beterbangan kala senja seakan menyapa setiap turis yang datang di pulau ini. Scooby Doo, be dooo!!. (Rudy Polycarpus)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar